Pernah menghabiskan satu jam penuh cuma buat meyakinkan anak mau makan dua suap nasi? Atau begadang semalaman karena si kecil tidak mau tutup mata padahal matanya sudah setengah terpejam? Kalau iya, kamu tidak sendirian.
Dua hal ini, susah makan dan susah tidur, adalah keluhan paling umum yang dilontarkan orang tua dari anak usia balita sampai sekolah dasar. Dan yang menarik, keduanya sering muncul bersamaan, seolah sudah berkomplot dari sananya. Anak yang rewel soal makanan biasanya juga punya pola tidur yang berantakan, dan sebaliknya.
Tapi sebelum kamu menyimpulkan bahwa ada yang salah dengan anakmu atau cara pengasuhanmu, mari kita lihat lebih dalam. Banyak dari perilaku ini ternyata punya alasan yang sangat masuk akal secara biologis maupun psikologis.
Ceritanya hampir selalu sama. Ibu sudah masak dengan penuh semangat. Menu sudah divariasi. Sayur sudah dipotong kecil-kecil supaya tidak kelihatan. Tapi begitu sendok mendekati mulut anak, drama pun dimulai. Mulut rapat, kepala geleng, atau yang paling menyiksa: makanan dilempar ke lantai.
Kenapa ini bisa terjadi? Ada beberapa alasan yang perlu kamu tahu.
Anak-anak, terutama di usia 2 sampai 6 tahun, secara alami mengalami fase yang disebut neophobia makanan. Ini bukan istilah yang dibuat-buat. Secara evolusi, rasa takut terhadap makanan baru adalah mekanisme bertahan hidup. Dulu, sebelum ada supermarket dan label gizi, makanan yang tidak dikenal bisa jadi berbahaya. Otak anak menyimpan naluri itu.
Jadi ketika anakmu menolak brokoli yang belum pernah dia makan, itu bukan berarti dia nakal. Itu berarti otaknya sedang bekerja persis seperti yang seharusnya.
Beberapa anak memiliki ambang sensoris yang lebih tinggi dari rata-rata. Tekstur makanan yang lembek bisa terasa sangat tidak nyaman di mulut mereka. Bau tertentu terlalu kuat. Warna sayuran yang terlalu mencolok sudah cukup membuat mereka tidak berselera. Ini bukan alasan, ini memang kondisi nyata yang perlu dipahami orang tua.
Di usia balita, anak sedang dalam fase membangun otonomi. Mereka ingin punya kendali atas sesuatu. Dan dalam hidup mereka yang penuh aturan, makan adalah salah satu hal yang benar-benar bisa mereka kontrol. Menolak makanan, dalam sudut pandang anak, adalah cara mereka mengatakan "ini putusan saya."
Sayangnya, semakin kita memaksa, semakin kuat perlawanan mereka. Karena kalau dipaksa dan akhirnya mau, itu artinya kontrol mereka sudah diambil alih. Dan tidak ada anak yang suka itu.
Banyak saran soal anak susah makan yang beredar di internet terdengar bagus tapi susah dijalankan, atau malah memperburuk keadaan. Berikut pendekatan yang lebih membumi.
Ellyn Satter, seorang ahli gizi dan terapis keluarga, memopulerkan konsep yang disebut Division of Responsibility in Feeding. Idenya sederhana tapi powerful. Orang tua bertanggung jawab atas apa yang disajikan, kapan disajikan, dan di mana makan. Anak bertanggung jawab atas apakah mereka mau makan dan berapa banyak.
Kedengarannya menakutkan. "Bagaimana kalau dia tidak makan sama sekali?" Tapi justru di sinilah letak kuncinya. Ketika anak tahu bahwa tidak ada yang akan memaksa mereka, tekanan hilang. Dan anak yang tidak tertekan lebih mudah mencoba hal baru.
Riset menunjukkan bahwa anak perlu terpapar makanan baru rata-rata 10 sampai 15 kali sebelum mereka mau mencicipinya. Bukan langsung menyukainya, tapi sekadar mencicipi. Ini artinya, menyajikan brokoli sekali lalu menyerah adalah terlalu cepat. Terus sajikan tanpa komentar, tanpa bujukan, tanpa drama.
Tips 1: Sajikan makanan baru bersama makanan favorit anak, bukan sebagai pengganti.
Tips 02: Ajak anak ke dapur. Anak yang ikut memasak cenderung lebih penasaran untuk mencicipi.
Tips 03: Jangan jadikan makanan sebagai hadiah atau hukuman. Ini membangun hubungan yang salah dengan makanan.
Tips 04: Makan bersama di meja yang sama. Anak belajar makan dari melihat orang dewasa makan.
Kalau setiap makan selalu berakhir dengan negosiasi dan air mata, anak akan mengasosiasikan meja makan dengan tekanan. Usahakan makan menjadi waktu yang menyenangkan. Cerita lucu, ngobrol soal hari ini, atau sekadar duduk bersama tanpa gadget. Ketika suasana rileks, pertahanan anak pun turun.