Mitos atau Fakta, Benarkah Anak Sunat Tidak Boleh Makan Telur & Ikan?
Mitos atau Fakta, Benarkah Anak Sunat Tidak Boleh Makan Telur & Ikan?
Jum'at, 02 Januari 2026 09:11 WIB | 51 views
"Jangan kasih makan telur dulu ya, nanti lukanya gatal!" "Hindari makan ikan, nanti burung-nya bernanah dan amis!"

Pernahkah Anda mendengar nasihat seperti itu dari orang tua, tetangga, atau kerabat saat si kecil baru saja dikhitan?

Di Indonesia, pantangan makan makanan yang berbau amis (seperti telur, ikan, dan daging) pasca-operasi atau khitanan masih sangat dipercaya. Tujuannya konon agar luka cepat kering dan tidak gatal.

Namun, apakah hal tersebut benar secara medis? Atau justru malah memperlambat penyembuhan? Mari kita bedah tuntas Mitos dan Faktanya.

MITOS: Makan Telur dan Ikan Bikin Luka Basah & Gatal

Banyak yang percaya bahwa makanan berprotein tinggi seperti telur dan ikan akan membuat luka khitan menjadi "basah", bernanah, atau menyebabkan rasa gatal yang tak tertahankan pada area kemaluan anak.

FAKTA MEDIS: Protein Justru KUNCI Penyembuhan Luka!

Ini adalah fakta yang harus diketahui setiap orang tua: Mitos tersebut SALAH BESAR.

Secara medis, tubuh justru membutuhkan asupan Protein Tinggi (Albumin) untuk membentuk jaringan kulit baru dan menutup luka.

Ketika tubuh kekurangan protein, proses penyembuhan luka justru akan melambat. Luka yang seharusnya kering dalam 3-5 hari bisa molor menjadi seminggu lebih jika anak hanya diberi makan nasi dan sayur bening saja tanpa lauk pauk yang memadai.

Manfaat Ajaib Telur & Ikan untuk Luka Khitan

Mari kita lihat apa yang sebenarnya terkandung dalam dua makanan "terlarang" ini:

1. Telur (Superfood Penyembuh Luka) Telur adalah sumber protein hewani dengan kualitas biologis terbaik dan termurah.

  • Putih Telur: Kaya akan protein dan albumin. Albumin inilah zat yang bertugas "mengelem" jaringan sel yang terputus akibat sayatan khitan agar cepat menyatu kembali.

  • Kuning Telur: Mengandung Zinc dan Vitamin B yang memperkuat sistem imun anak.

2. Ikan (Terutama Ikan Gabus) Ikan kaya akan Omega-3 yang berfungsi sebagai anti-inflamasi (anti-peradangan).

  • Ikan Gabus (Channa Striata): Ini adalah juara kelasnya penyembuh luka. Ikan gabus memiliki kandungan albumin yang sangat tinggi, bahkan sering diekstrak menjadi obat pasca-operasi caesar atau khitan. Melarang anak makan ikan justru merugikan proses penyembuhannya.


Kapan Telur & Ikan Harus Dihindari?

Satu-satunya alasan medis untuk melarang anak makan telur atau ikan adalah jika anak memiliki riwayat ALERGI.

Jika sebelum disunat anak Anda memang gatal-gatal atau bentol saat makan telur/udang/ikan tongkol, maka jangan diberikan saat pasca-sunat. Reaksi alergi memang bisa menyebabkan gatal pada luka yang memicu anak untuk menggaruknya.

Namun, jika anak Anda sebelumnya aman-aman saja makan telur dan ikan, maka lanjutkan! Berikan sebanyak yang ia mau.

Daftar Menu Terbaik Pasca-Khitan

Agar si jagoan cepat pulih dan bisa lari-lari lagi, Bunda bisa menyiapkan menu berikut:

  1. Telur Rebus: Camilan paling praktis dan sehat.

  2. Sup Ikan Gabus: Segar, hangat, dan super ampuh mengeringkan luka.

  3. Daging Ayam: Sumber protein yang disukai anak-anak.

  4. Tempe & Tahu: Jangan lupa protein nabati juga sangat baik.

  5. Buah Jeruk/Jambu: Vitamin C membantu pembentukan kolagen kulit.

Jadi, Ayah dan Bunda tidak perlu takut lagi. Abaikan mitos "pantang makanan amis". Selama anak tidak alergi, Telur dan Ikan adalah sahabat terbaik untuk penyembuhan luka khitan.

Semakin bagus asupan gizinya, semakin cepat lukanya kering, dan semakin cepat pula Anda bisa mengadakan acara syukuran untuk merayakan keberaniannya.

Dan bicara soal syukuran, jika luka si kecil sudah sembuh dan Anda berencana mengundang kerabat untuk doa bersama, Khitanan.id siap membantu. Buat undangan khitanan digital yang praktis, modern, dan hemat biaya hanya dalam hitungan menit.

Semoga si kecil lekas sembuh, ya!



Berikan Komentar Via Facebook