Cara Mendiskusikan Metode dan Waktu Khitan Agar Anak Merasa Berdaya Atas Tubuhnya Sendiri
Cara Mendiskusikan Metode dan Waktu Khitan Agar Anak Merasa Berdaya Atas Tubuhnya Sendiri
Rabu, 11 Februari 2026 15:01 WIB | 32 views

Selama puluhan tahun, khitan sering kali dianggap sebagai "keputusan mutlak orang tua." Anak biasanya hanya diberi tahu sehari sebelumnya, atau bahkan langsung dibawa ke klinik tanpa penjelasan yang jujur. Padahal, khitan adalah tindakan medis yang dilakukan pada tubuh si anak sendiri.

Memberikan ruang bagi anak untuk ikut berdiskusi bukan berarti kita menyerahkan seluruh keputusan padanya, melainkan mengajarkan mereka tentang otonomi tubuh (body autonomy). Saat anak merasa didengar, tingkat kecemasan mereka akan menurun, dan proses penyembuhan biasanya berjalan lebih kooperatif.

Berikut adalah panduan lengkap cara mendiskusikan pilihan metode dan waktu khitan bersama anak.
 

1. Mulai dengan Kejujuran yang Sesuai Usia

Langkah pertama adalah menghilangkan unsur "kejutan yang menakutkan." Jangan gunakan kata-kata seperti "hanya digigit semut" jika Anda tahu itu akan terasa lebih dari itu. Kejujuran membangun kepercayaan.

  • Gunakan Istilah yang Tepat: Jelaskan bahwa ada bagian kulit kecil yang harus dilepaskan agar area tersebut lebih bersih dan sehat.

  • Gunakan Alat Peraga: Untuk anak yang lebih kecil, Anda bisa menggunakan bantuan boneka atau ilustrasi sederhana untuk menjelaskan prosesnya tanpa terlihat mengerikan.

2. Kenalkan Berbagai Metode sebagai "Pilihan"

Saat ini teknologi khitan sudah sangat maju. Ajaklah anak melihat pilihan-pilihan tersebut layaknya mereka memilih perlengkapan sekolah.

  • Metode Lem/Klamp: Jelaskan bahwa ini adalah metode "tanpa jahitan" yang memungkinkan mereka langsung memakai celana atau bahkan bermain dengan hati-hati.

  • Metode Stapler: Jelaskan bahwa ini adalah teknologi terbaru yang sangat cepat prosesnya.

  • Diskusi Visual: Ajak anak menonton video edukasi (bukan video tindakan medisnya, tapi video animasi penjelasan) tentang metode-metode tersebut. Tanyakan pada mereka, "Menurut kamu, mana yang terdengar paling nyaman buat badan kamu?"

3. Memberikan Kontrol atas "Kapan"

Salah satu cara terbaik membuat anak merasa memiliki kendali adalah membiarkan mereka memilih waktunya. Tentu, dalam batasan tertentu (misalnya saat libur sekolah).

  • Berikan Opsi Tanggal: "Kita ada rencana khitan di liburan ini. Kamu lebih siap di minggu pertama supaya nanti sisa liburannya bisa bebas main, atau di minggu terakhir?"

  • Tanda Kesiapan Mental: Jika anak meminta waktu tambahan (misal: "Bulan depan saja ya, Yah"), cobalah untuk bernegosiasi daripada langsung menolak. Ini melatih mereka untuk bertanggung jawab atas keputusan yang mereka buat sendiri.
     

4. Diskusikan "Rencana Kenyamanan" (Comfort Plan)

Libatkan anak dalam menyusun skenario saat tindakan berlangsung. Ini sangat efektif untuk mengurangi rasa takut terhadap ketidaktahuan.

  • Distraksi Saat Tindakan: Tanya anak, "Nanti pas disunat, kamu mau sambil main game di HP, nonton YouTube, atau sambil dengerin musik pakai headphone?"

  • Kehadiran Orang Tua: Tanyakan apakah mereka ingin ditemani oleh Ayah, Ibu, atau keduanya di dalam ruangan.

  • Pemberian Reward: Alih-alih menyebutnya sebagai "suap", sebutlah ini sebagai "hadiah perayaan keberanian". Biarkan mereka memilih sendiri apa hadiah yang ingin mereka dapatkan setelah berhasil melewati proses tersebut.
     

5. Menghadapi Rasa Takut dengan Empati

Jangan pernah meremehkan rasa takut anak dengan kalimat seperti "Masa gitu aja takut?" atau "Laki-laki harus kuat."

Gantilah dengan kalimat yang inklusif dan suportif:

  • "Wajar banget kalau kamu merasa takut atau gugup. Ayah dulu juga merasakannya. Apa yang bisa Ayah bantu supaya kamu merasa sedikit lebih tenang?"

  • "Ini badan kamu, jadi kalau ada yang terasa tidak nyaman nanti, kamu boleh bilang ke dokternya langsung."

 

6. Mengapa Diskusi Ini Penting untuk Masa Depan?

Melibatkan anak dalam urusan khitan adalah pelajaran pertama mereka tentang Consent (Persetujuan).

  1. Membangun Kepercayaan Diri: Anak merasa dihargai sebagai individu yang pendapatnya dianggap penting.

  2. Mengurangi Trauma: Anak yang merasa "dipaksa" cenderung mengalami trauma medis yang bisa terbawa hingga dewasa.

  3. Tanggung Jawab: Anak yang memilih metodenya sendiri cenderung lebih disiplin dalam mengikuti aturan perawatan pasca-khitan (aftercare).

Khitan bukan sekadar prosedur medis atau ritual budaya; ini adalah pengalaman hidup yang akan diingat anak selamanya. Dengan memberikan mereka kontrol atas pilihan metode dan waktu, kita sedang menanamkan benih kepercayaan diri dan rasa hormat terhadap tubuh mereka sendiri.

Tugas kita sebagai orang tua bukan hanya memastikan prosedurnya sukses, tapi memastikan anak melewatinya dengan perasaan bangga dan berdaya.



Berikan Komentar Via Facebook